Minggu, 22 April 2012

Asuh Anak di Usia Emas

Perkembangan otak anak mencapai 90 persen ketika memasuki usia lima tahun pertama. Dan, usia 0-3 tahun merupakan masa emas atau golden age, di mana stimulasi yang terjadi sangat memengaruhi kepribadiannya di kemudian hari.

Orangtua sangat dianjurkan untuk memberi perhatian lebih kepada anaknya di masa emas. Ada dua unsur yang sebaiknya menjadi fokus perhatian orangtua dalam menangani anak di usia emas.

1. Kasih sayang dan Perhatian
Menghabiskan waktu bersama keluarga memang menjadi hal yang langka, terutama di tengah masyarakat urban. Seperti pengalaman presenter Donna Agnesia dan suaminya Darius Sinathrya. Tapi sepadat apapun rutinitas pekerjaan, mereka harus tetap meluangkan perhatian penuh terhadap anak-anak mereka. Salah satu bentuk pemberian kasih sayang dan perhatian bagi anak dapat dibangun dengan cara yang sederhana. Misalnya, pemberian reward atau pujian.

2. Simulasi
Agar perkembangan anak di usia emas tak terlewatkan, orangtua dianjurkan sedini mungkin mengajarkan anak untuk mendengar, berbicara, dan bersikap. Bisa dimulai dengan mengajak komunikasi anak sejak dalam kandungan. Ini untuk merangsang perkembangan motorik dan otak anak.

Mengajarkan bahasa sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap tingkah laku anak di masa depan. Dan perlu hati-hati, anak usia dua tahun sangat suka menirukan apa yang dia lihat dan dengar. Karenanya, jangan sampai kita memberi contoh keliru.

Rasulullah SAW bersabda: “Belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu”, akan terus berbekas sampai dewasa nanti. Usia dini (di bawah 6 tahun) merupakan masa-masa emas (golden age). Pada masa ini terjadi perkembangan syaraf otak yang luar biasa. Anak akan mudah sekali menerima informasi dan menyerap fakta yang diinderanya. Dengan begitu jangan pernah melewatkan masa-masa emas ini karena tidak akan pernah kembali. Ajarkan Islam pada mereka, tentu dengan cara dan bahasa yang yang tepat sesuai dengan tahap perkembangannya. Bacaan-bacaan shalat yang masih kita hafal sampai sekarang bukankah juga yang diajarkan dan dihafalkan waktu kecil?

Biasakanlah mengucapkan kalimat-kalimat thoyibbah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar saat kita dan anak-anak melihat keindahan ciptaanNya dan mensyukuri semua nikmatNya. Bacakan buku-buku cerita tentang Rasulullah, agar anak mengenal nabinya sekaligus menjadikannya sebagai idola. Membacakan buku cerita disamping akan mendekatkan kita dengan si kecil juga akan sangat membantu mengasah perkembangan bahasanya. Gunakan kesukaan anak melakukan eksplorasi di usia ini dengan memberikan stimulasi sebanyak-banyaknya dengan tetap memperhatikan kemampuan anak.

Untuk menanamkan rasa kepeduliannya terhadap orang lain, ajaklah anak untuk beramal, misalnya dengan memberikan sedekah kepada peminta-minta atau biarkan anak yang memasukkan uang di kotak infak ketika mengikuti kajian-kajian keIslaman. Ajaklah anak berdiri disamping kita setiap akan melakukan shalat lima waktu. Pakaikan mukena atau sarung kecil yang nyaman, biar anak juga tahu bahwa aurat harus ditutup ketika melakukan shalat. Biarkan dia mengerakkan badan sebisanya, dan sangat mungkin belum sampai salam si kecil sudah berlari.

Dengarkan ayat-ayat Al-Qur’an sesering mungkin. Ajaklah dia duduk disamping kita saat membaca Al-Qur’an. Jangan kaget, kalau tiba-tiba si kecil lancar membaca salah satu Surat yang pernah dia dengar, walau mungkin mahrojnya belum sempurna. Biasakan mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan, sebelum dan setelah bangun tidur, dan juga doa-doa lain yang biasa kita ucapkan. Sering-seringlah diajak ke tempat-tempat pengajian agar anak terbiasa dalam majlis-majlis ilmu. Dan jangan lupa, untuk anak perempuan biasakan menutup aurat dengan busana muslimah yang mungil. Pilihlah bahan yang enak dipakai agar anak merasa nyaman. 
Semoga anak-anak kita menjadi cahaya mata yang menyejukkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar