Senin, 12 Maret 2012

Beras Pera Lebih Sehat dari Beras Pulen Meski Tidak Enak

Beras saat ini masih menjadi makanan pokok di Indonesia. Beras pulen yang lembut pun lebih banyak dipilih orang karena dianggap lebih enak, sehingga harganya menjadi lebih mahal. Padahal secara medis, beras pera justru lebih sehat ketimbang beras pulen, meski rasanya cenderung tidak enak.

"Beras pulen seperti pandan wangi yang lengket, lembut dan lebih mahal itu justru indeks glikemiknya lebih tinggi ketimbang beras pera. Jadi kalau dibandingkan maka beras pera lebih sehat," jelas DR dr Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Departemen Gizi FKUI-RSCM, dalam acara Media Edukasi 'Kenali Jenis Gula Tambahan, Indeks dan Beban Glikemik Serta Dampaknya pada Anak!' di The Energy Cafe, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Menurut DR Fiastuti, cara masak dapat mempengaruhi indeks glikemik (GI) suatu makanan. Sebagai contoh, beras pulen akan memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi dibandingkan beras pera karena kandungannya menjadi semakin halus.

"Beras pera GI-nya lebih rendah dari beras pulen karena kalau dimasak tidak sampai hancur, sehingga butuh proses di saluran cerna yang lebih lama. Jadi gula darahnya tidak langsung tiba-tiba melonjak dan kenyangnya pun lebih lama," lanjut DR Fiastuti.

Contoh makanan dengan indeks glikemik rendah lainnya adalah beras merah, yang menurut kebanyakan orang rasanya juga tidak enak. Sedangkan bubur memiliki indeks glikemik yang sangat tinggi karena memiliki tekstur yang sangat halus, terlebih bila bubur berasal dari beras pulen.

"Bisa dikatakan, makin halus tekstur suatu makanan makin tinggi indeks glikemiknya," tegas DR Fiastuti.

Indeks glikemik (GI) adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Makin tinggi GI, makin cepat karbohidrat diolah menjadi gula dan produksi insulin pun semakin meningkat.

Makanan dengan GI tinggi mungkin dapat membuat orang merasa berenergi dengan segera, namun karena gula yang tiba-tiba naik tadi akan turun secara mendadak pula (fluktuasinya tinggi), akhirnya juga membuat orang cepat lapar. Akibatnya, orang akan menjadi lebih banyak makan.

Makanan dengan GI tinggi juga berpotensi membuat orang cepat gemuk dan memicu obesitas (kegemukan), karena kelebihan energi yang tidak terpakai akan disimpan dalam bentuk lemak.

GI tinggi juga membuat pankreas bekerja keras untuk menghasilkan insulin guna mengimbangi gula darah yang naik secara tiba-tiba. Bila orang terus-menerus makan makanan dengan indeks glikemik tinggi, dampaknya adalah kerusakan pankreas yang bisa menyebabkan diabetes tipe 2 (karena gaya hidup).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar